PACITAN — Riuh rendah panggung Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Pacitan tahun 2026 menyisakan cerita edukatif yang mendalam. Bertempat di Gedung Karya Darma pada Selasa (19/5), kompetisi sengit di cabang Seni Kriya melahirkan berbagai terobosan visual dari tangan-tangan mungil generasi masa depan daerah.
Salah satu sorotan tertuju pada Berva Ulfatinissa. Siswa kelas 5 SD Negeri 1 Mendolo Kidul yang datang membawa panji perwakilan Kecamatan Punung ini, berhasil mengamankan gelar Juara Harapan 2. Bukan lewat replika mainstream, melainkan melalui sebuah ide segar: menciptakan instrumen permainan baru yang sepenuhnya memanfaatkan bahan-bahan dari alam sekitar.
Melampaui Batas Pedagogik: Menggali Skill Menjadi Karya
Keberhasilan Belva menjadi potret penting bagaimana pendidikan dasar hari ini dituntut untuk tidak sekadar terjebak pada teks akademis. Di balik karya inventif tersebut, ada proses kurasi bakat yang panjang.
Ina Kusumawati, S.Pd., salah satu motor penggerak di balik layar, menegaskan bahwa potensi siswa sering kali bermula dari letupan skill mentah yang jika diasah secara tepat akan mengkristal menjadi sebuah karya nyata.
"Sebagai pendidik, selain mengandalkan ilmu pedagogik di dalam kelas, kita dituntut untuk aktif menggali ilmu keterampilan praktis anak didik. Menjembatani ide kreatif mereka agar tidak mandek di kepala, tapi mewujud dalam karya yang fungsional," urai Ina saat ditemui di sela-sela pasca-perlombaan.
Langkah Berva memadukan unsur alam menjadi sebuah permainan baru membuktikan bahwa wilayah Punung, yang kaya akan bentang alam sosiologisnya, mampu memantik imajinasi anak untuk menolak ketergantungan pada gawai modern.
Hidup yang Lebih 'Asin': Seni sebagai Penyeimbang Logika
Dimensi lain dari urgensi seni dalam kurikulum pendidikan formal digarisbawahi secara filosofis oleh Eni Saudah, S.Pd. Baginya, panggung FLS3N ini adalah pembuktian bahwa kecerdasan kognitif semata tidak akan pernah cukup untuk membentuk manusia seutuhnya.
"Ilmu tanpa seni itu ibarat sayur tanpa garam," cetus Eni Saudah dengan analogi yang membumi namun menohok. "Hambar. Seni memberikan rasa, empati, dan estetika pada ilmu yang dipelajari anak-anak. Kriya ini adalah cara mereka membahasakan dunia lewat rasa tersebut."
Gedung Karya Darma Pacitan kemarin mungkin hanya mencatat nama-nama juara di atas piagam. Namun bagi dunia pendidikan di Pacitan, khususnya Kecamatan Punung, langkah Belva Ulfatunissa dan refleksi para pendidik di SDN 1 Mendolo Kidul adalah alarm pengingat: bahwa dari bahan alam yang kerap terabaikan, jika disentuh dengan keterampilan dan rasa, bisa lahir sebuah peradaban bermain yang baru dan mendidik. (hefi for Pacitan post)